Senin, 29 Agustus 2011

Being ALONE in the middle of the CROWD


Terinspirasi oleh Blog adik saya : Jasie(jasieblast.blogspot.com)
Dia menulis tentang bagaimana rasa kesepian dan beban seorang diri dari pedagang ketoprak yang setia berada di dekat rumah saya.
Ketika saya membacanya, saya tentu tidak mampu memposisikan diri saya sebagai seorang pedagang ketoprak yang harus "sendirian". Semuanya sendirian.
Jujur, saya paling iba melihat orang makan sendirian, terutama anak kecil dan orang tua.

Dan pada suatu malam, ketika saya pulang kerja, sudah jam delapan hampir setengah sembilan malam waktu itu. Tapi halte Tr*nsjakarta saat itu masih banyak orang.
Ketika bus saya sudah datang, saya duduk persis bersebrangan dengan seorang kakek yang usianya saya yakin lebih tua dari nenek saya.
Dia sepertinya pulang sehabis belanja sayuran, saya ingat sayur caisim hijau yang dibawanya.
Saya sungguh tidak sampai hati melihat matanya.
Saya teringat dengan kakek saya yang sudah tidur tenang.
Tapi saya juga tidak bisa melakukan apa-apa.
Orang yang duduk disebelahnya sepertinya berfikir yang sama dengan saya.
Dimana anaknya? apa dia tidak menikah?

Suatu hari nanti saya berharap orang tua saya tidak akan naik Tr*nsjakarta sendirian malam-malam membawa caisim hijau, tapi pasti selalu ada dari kami bertiga yang bisa mengantarnya.
Dan begitu juga yang saya harapkan ketika saya tua nanti.
Karena saya tidak mau menjadi objek tulisan orang lain karena keibaannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar