Gue tidak memimpikan perkerjaan sebagai seorang guru
Karena kalo boleh jujur kadang gue suka gak sabar ngeliat begitu banyak anak, berisik di dalem satu ruangan mau sempit atau luas
Tapi kalo bisa memilih perkerjaan yang lebih gue suka, gue lebih memilih jadi Tour Guide.
Memang saat ini pun gue mengajar karena kebutuhan finansial gue pribadi..
Tulisan gue yang kali ini menjadikan gue merelakan diri gue untuk lebih concern kepada dunia pendidikan, dan lebih concern dari sebelumnya
Waiting for Superman bercerita tentang kebobrokan pendidikan di Amerika yang sepanjang ini kita melihat Amerika sebagai trendsetter dari segala bidang.
Misalnya aja, ketika gay or lesbian mulai menjadi sesuatu yang common di lingkungan sana, begitu juga di Indonesia dan gue pikir ditempat lain juga begitu.
Namun kalo kita tau tentang kisah Waiting for Superman ini, apa kita masi mau mengikuit Amerika sebagai tolak ukur kita??
Waiting for Superman, sebuah film dokumenter yang bikin gue sedih banget ngeliat pendidikan yang gak fair buat mereka.
Ada seorang anak yang orang tuanya gak punya uang buat melunasi uang sekolahnya. Di hari kelulusan anak itu gak boleh ikut ceremony kelulusan, padahal dia lulus dengan nilai yang baik.
Dimana hati mereka??
Apa salah anak itu??
Hati anak itu pasti sakit banget. Hanya karena dia gak punya uang, dia gak bisa ikut ceremony kelulusan dimana, kita sendiri selalu menantikan itu ketika kita lulus.
Yang lain tentang ketika mereka masuk university, cara buat mereka buat bisa lolos bukan karena kepandaian mereka, tapi karena nomer yang mereka pegang di tangan mereka saat ini.
Singkatnya seperti ini, Leon pegang nomer 19 dari 100 orang teman mereka, dan hanya 10 orang yang bisa dapen Golden Ticket buat masuk university. Cara mendapakatan Golden Ticket itu dengan muter nomer kayak main lotre. Itu gila
Cuma mengandalkan sebuah luck and just totally luck yang membuat mereka bisa masuk university.
Kalo kita bandingin sama Indonesia, yang punya kurikulum berlebihan dengan silabus mata pelajaran yang gak masuk akal buat anak SMA atau SMP sekali pun.
Kalo silabus itu diikuti persis dengan kurikulum yang ada,
F.Y.I setiap anak SMA bakal tidur jam 2 malem hampir setiap harinya karena tugas yang mereka harus kerjakan. Karena itu yang gue liat langsung dari adik gue,Jassie. Biasanya gue yang kuliah aja, tidur duluan daripada dia.
Kurikulum Indonesia itu berlebihan. Anak-anak Indonesia bakal rusak badan dan mentalnya karena tekanan dari pendidikan.
Untung aja sekarang sistem kelulusan gak kayak dulu, yang gak fair. Gue sedih banget waktu sahabat gue gak lulus, cuma karena nilai UAN matematikanya kurang. Padahal kita sama-sama berjuang, ngeles abis pulang sekolah.
Untungnya di Amerika juga, ada guru di suatu sekolah yang dengan suka rela mengajar dan membantu anak-anak mengerjakan PR sampe jm 11 malem.
Ada yang dengan terbuka menerima mereka yang pengen sekolah dengan umur berapapun..selama masih acceptable.
Dan Oprah Angel Association bantu mereka untuk menambah branch sekolah mereka.
Begitu juga dengan gue, dan gue yakin kalian yang membaca bisa membuka hati untuk bisa memberikan sedikit dari kita punya, seperti ilmu yang udah kita dapetin selama sekolah, kuliah, atau ikut kursus dan waktu kita juga pastinya.
Gue selalu terbuka mengajar mereka yang ingin belajar.
Dan gue lebih senang mengajar mereka yang mau belajar, walaupun mereka tidak pandai.
Karena sedikit dari kemajuan mereka membuat gue senang, bangga, karena paling gak gue mampu membantu dia untuk berkembang, that's it.

P.S : no offense.